My Profil

emertarh

emertarh

PGSD FKIP UMS

View Full Profile →

Asal Pengunjung

Flag Counter

Pendidikan Pancasila

Berdasarkan fungsi strategis Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, kiranya perlu adanya pendidikan Pancasila bagi setiap warga negara Indonesia. Pendidikan Pancasila bukan hanya dimaksudkan untuk memahamkan mengenai tata kehidupan bernegara, tetapi juga sebagai proses internalisasi nilai-nilai Pancasila. Sebagai sistem filsafat sekaligus hasil pemikiran filosofis, Pancasila perlu dikaji dan difahami agar setiap warga negara mengetahui kekuatan dan kebenaran Pancasila sehingga pada gilirannya tumbuh keyakinan dan kesadaran yang kuat untuk mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kedudukan Pancasila sebagai Dasar Negara membawa konsekuensi bahwa seluruh tata kenegaraan dan penyelenggaraan negara harus didasarkan kepada Pancasila. Sebagai sistem filsafat negara, pancasila tentunya mempunyai konsep tentang negara dan bagaimana negara tersebut harus diselenggarakan. Seluruh aspek kehidupan kenegaraan, baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial, budaya harus didasarkan pada konsep filsafat Pancasila. Mengingat pancasila sebagai dasar negara masih bersifat abstrak dan tematik, perlu dikaji secara ilmiah. Pancasil perlu dikaji dan difahamkan kepada setiap warga negara secara bertahap sesuai dengan tingkat usia dan jenjang pendidikan.

Kedudukan Pancasila sebagai pandangan hidup, yang  di dalamnya terkandung prinsip-prinsip harus di internalisasikan dan diyakinkan kepada setiap warga negara. Sebagai pandangan hidup, Pancasila mengandung nila-nilai universal yang harus dipahami dan diyakini kebenarannya, yang kemudian dijadikan pedoman dalam mengatasi persoalan-persoalan kehidupan. Nilai-nilai tersebut harus ditanamkan kepada setiap warga negara, agar mereka meyakini kebenarannya dan mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Ini berarti pendidikan Pancasila dalam fungsinya sebagai pandangan hidup menjadi sangat penting, agar setiap warga negara memahami nilai-nilai dan prinsip-prinsip dasar yang terkandung dalam Pancasila

Sebagai ideologi, Pancasila mempunyai konsep mengenai kehidupan yang dianggap ideal. Yang dibangun berdasarkan realitas sosiokultural bangsa Indonesia sendiri. Selain konsep kehidupan yang ideal, sebagai ideologi Pancasila juga menawarkan bagaimana cara untuk mewujudkannya. Bahkan sebagai ideologi, Pancasila mempunyai keunggulan dibanding dengan ideologi-ideologi lain di dunia, karena Pancasila merupakan sintesa dari berbagai ideologi yang ada di dunia dengan menawarkan prinsip keseimbangan, keselarasan, dan keserasian. Pemahaman tentang konsep kehidupan yang diidealkan dan bagaimana cara-cara mewujudkan tentu harus dipahamkan kepada seluruh warga negara Indonesia, agar mereka mampu mewujudkan suatu tatanan hidup masyarakat yang adil dan sejahtera.

Mengingat pentingnya fungsi dan kedudukan Pancasila dalam tata kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, maka pendidikan  Pancasila sebagai instrumen untuk membangun warga negara yang baik, yang berkarakter Pancasila dan meyakini kebenaran dan kekuatan Pancasila dalam mencapai cita-cita harus diberikan kepada setiap generasi bangsa. Persoalannya adalah apakah isi substansi materi yang akan diberikan dan fokus penekanan yang kita prioritaskan dari ketiga fungsi Pancasila tersebut?

Dalam sejarah kurikulum pendidikan di Indonesia mengalami berbagai perubahan isi dan sekaligus penekanan fungsi Pancasila. Pada awal kemerdekaan, ada mata pelajaran civics (sekitar 1957 – 1958), kemudian berganti nama menjadi Kewarganegaraan (sekitar tahun 1962). Pada awal Orde Baru  mata pelajaran Kewarganegaraan berubah menjadi Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Pada tahun 1975 dalam kurikulum yang dikenal kurikulum 1974, mata pelajaran PKn berganti nama dengan Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Nama ini merujuk pada TAP MPR No II tahun 1978  tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P-4), materi P-4 masuk dalam mata pelajaran PMP.

Sejak tahun 1989, dengan adanya undang-undang tentang Sistem Pendidikan Nasional, muncul kurikulum baru yang mewajibkan setiap jenjang dan jenis pendidikan wajib ada mata pelajaran Pancasila, Kewarganegaraan, dan Agama. Berdasarkan keputusan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan no 060 dan 061/U/1993 tanggal 25 pebruari 1993, di sekolah dasar dan menengah wajib ada mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn). Kemudian dengan munculnya Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional yang baru  yaitu UU Nomor 20 tahun 2003, mata pelajaran Pancasila hilang dari kurikulum pendidikan nasional, yang ada tinggal Pendidikan Kewarganegaraan.

Persoalannya adalah apakah tekanan isi materi dan tujuan dari masing-masing periode serta mata pelajaran itu sama dan bisa mencakup seluruh fungsi Pancasila? Kalau kita lihat dari isi materi dan tujuan ada perbedaan penekanan pada masing-masing kurikulum. Jika kita bandingkan antara maksud, tujuan, dan ruang lingkup dari mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) pada kurikulum 1994 dengan mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) pada kurikulum 2004 ada perbedaan yang cukup signifikan.

Pada kurikulum 2004 disebutkan mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warga negara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945. sedangkan pada kurikulum 1994, disebutkan bahwa Pendidikan Pacasila dan Kewarganegaraan (PPKn) adalah mata pelajaran yang digunakan sebagai wahana untuk mengembangkan dan melestarikan nilai-nilai luhur dan moral yang berakar pada budaya bangsa Indonesia yang diharapkan dapat diwujudkan dalam bentuk prilaku dalam kehidupan sehari-hari siswa baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat, dan makhluk ciptaan Tuhan yang Maha Esa. Disamping  itu Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan juga dimaksudkan membekali siswa dengan budi pekerti, pengetahuan dan kemampuan dasar berkenaan dengan hubungan antar warga negara dengan negara serta pendidikan pendahuluan bela negara agar menjadi warga negara yang dapat diandalkan oleh bangsa dan negara.

Secara konseptual ada perbedaan penekanan antara mata pelajaran PPKn dan PKn. Mata pelajaran PPKn lebih menekankan pada pembangunan karakter dan pelestarian  nilai-nilai Pancasila. Sedangkan mata pelajaran PKn lebih menekankan pada pembentukan warga negara yang paham akan hak dan kewajiban.

Dilihat dari tujuan, mata pelajaran PKn bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut :

  1. Berfikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam memanggapi isu kewarganegaraan.
  2. Berpartisipasi secara aktf dan bertanggung jawab, dan bertindk secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta anti korupsi.
  3. Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan karakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa lainnya.
  4. Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.

Dalam kurikulum 1994 disebutkan bahwa fungsi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan adalah :

  1. Mengembangkan dan melestarikan nilai-nilai dan moral Pancasila secara dinamis dan terbuka. Dinamis dan terbuka dalam arti bahwa nilai dan moral yang dikembangkan mampu menjawab tantangan perkembangan yang terjadi dalam masyarakat, tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia yang merdeka, bersatu, dan berdaulat.
  2. Mengembangkan dan membina manusia Indonesia seutuhnya yang sadar politik dan konstitusi NKRI berlandaskan Pancasila dan UUD 1945.
  3. Membina pemahaman dan kesadaran terhadap hubungan antara warga negara dengan negara, antara warganegara dengan sesama warganegara, dan pendidikan pendahuluan bela negara agar mengetahui dan mampu melaksanakan dengan baik hak dan kewajibannya sebagai warga negara.

Kemudian secara tegas disebutkan bahwa tujuan pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan  adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan mengembangkan kemampuan memahami, menghayati, dan meyakini nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman berprilaku dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, sehingga menjadi warga negara yang bertanggung jawab dan dapat diandalkan serta memberi bekal kemampuan untuk belajar lebih lanjut.

Dari tujuan juga jelas berbeda. PPKn lebih menekankan pada pembentukan karakter (afektif), sedangkan PKn lebih menekankan pada aspek berfikir kritis (kignisi). Sebenarnya antara moralitas dan berfikir bukan dua hal yang terpisah sama sekali. Keduanya mempunyai hubungan. Kemampuan berfikir/kognisi seharusnya membimbing perilaku, sehingga semakin tinggi tingkat pengetahuannya juga semakin baik sikap dan moralnya. Secara filosofis buah dari ilmu itu adalah bijaksana. Oleh karena itu, seharusnya pendidikan mampu merubah perilaku seseorang, semakin tinggi tingkat pendidikannya maka semakin bijaksana sikap dan prilakunya.index

Indonesia dan Kebhinekaan

Kemajeukan-Kebhinekaan

Indonesia, adalah sepenggal cerita tentang kehidupan kurang lebih 250 juta jiwa manusia. Wilayahnya yang membentang dari Sabang sampai Merauke dengan luas 5.193.250 km². Dihuni oleh masyarakat yang beragam, baik suku, bahasa, budaya, ras, maupun agama.

Pada dasarnya Indonesia adalah kumpulan dari berbagai macam perbedaan yang disatukan oleh kesamaan cita-cita untuk hidup damai berdampingan dibawah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tanpa memandang perbedaan yang ada.

Mencari persamaan, dan bersikap toleran dengan perbedaan adalah kunci hidup bernegara. Bukan malah mencari perbedaan dan bersifat fanatic kepada golongan atau kelompok tertentu.

Belajar dari sejarah pada abad XIV oleh Mpu Tantular dalam kitab Sutasoma. Seorang Mpu (cendekiawan, pemikir) yang berpendirian teguh dan tidak mudah terpengaruh pada siapapun (Tantular) menuliskan :

“ Rwaneka dhatu winuwus Buddha Wiswa, Bhinneki rakwa rin apan kena parwanosen, Mangka ng Jinatwa kalawan siwatatwa tunggal, Bhinneka tunggal Ika tan hana dharma mangrwa”

(Agama Buddha dan Siwa (Hindu) merupakan zat yang berbeda, tetapi nilai-nilai kebenaran Buddha dan Hindu adalah tunggal. Terpecah belah tetapi tetap satu jua, artinya tidak ada darma yang mendua).

Apa yang ditulis oleh Mpu Tantular dimaksudkan agar antara agama Buddha dan Hindu pada saat itu dapat hidup berdampingan dengan damai dan tentram, sebab hakikat kebenaran yang terkandung dalam ajaran keduanya adalah tunggal. Sebagaimana yang dirasakan oleh Mpu Tantular sendiri sebagai penganut agama Buddha tetapi merasa aman hidup dalam kerajaan Majapahit yang bercorak Hindu.

Apa yang dituliskan Mpu Tantular, subtansinya adalah semangat untuk bersatu. Dan pada dasarnya subtansi itu adalah nilai-nilai universal yang diajarkan oleh setiap agama dan nilai-nilai moral dari setiap suku bangsa. Hanya saja ada kelompok tertentu dari kalangan fundamentalis dari semua golongan yang mencoba menghadapkan perbedaan pada dua kutub extrim yang mempropokasi dan memicu konflik.

Peran Pemuda

“Bangunlah suatu dunia di mana semua bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan”

(Bung Karno)

Berdasarkan proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2015 jumlah pemuda mencapai 62,4 juta orang. Jumlah kaum muda di Indonesia mencapai 25 persen dari seluruh penduduk Indonesia. Tentu saja ini adalah potensi pemuda yang cukup besar. Potensi ini jika tidak dikelola dengan baik maka akan berdampak negatif bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Potensi pemuda dari segi kuantitas ataupun kualitas sangat menarik. Semua pihak memiliki kepentingan dengan yang namanya pemuda. Termasuk kelompok radikal ISIS yang juga menjadikan pemuda sebagai objek rekrutmen. Oleh karena itu dalam kaitannya menjaga kebhinekaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara beberapa peran pemuda yang harus dikuatkan, diantaranya:

Pemuda sebagai Pemersatu

Sejarah Hari Sumpah Pemuda adalah sejarah tentang kepeloporan pemuda dalam merangkul semua elemen bangsa yang masih bercerai berai untuk bersatu dalam tumpah darah, bangsa, tanah air, dan bahasa yang satu yakni Indonesia. Peran ini harus senantiasa dikuatkan. Karena pada dasarnya dari tinjauan historis, pemuda menjadi pelopor pemersatu jauh sebelum Indonesia Merdeka.

Pemuda sebagai Pelopor Perdamaian

Idealisme, kekuatan, semangat, intelektual adalah gambaran sosok pemuda. Jika potensi ini dimaksimalkan maka pemuda tidak adakan mudah terpropokasi dari pengaruh kelompok radikal yang senantiasa ingin memicu konflik. Dengan idealism kebangsaan yang kuat, serta daya nalar yang baik, pemuda mampu membentengi diri dan juga orang lain dari perpecahan.

Saat ini gencar dilakukan provokasi perpecahan bangsa dengan berbagai macam isu SARA di dunia maya. Tentu saja ini menjadi perhatian penting bagi pemuda untuk melakukan gerakan perlawanan dengan aksi tersebut. Mengajak kepada perdamaian, dan juga menumbuhkan kesadaran berbangsa dan bernegara di kalangan pemuda.

KEINDAHAN BULAN SUCI RAMADHAN

Bulan Ramadhan adalah bulan kesembilan dalam penanggalan Hijriyyah. Sepanjang bulan ini pemeluk agama Islam semakin intens melakukan serangkaian aktivitas keagamaan.

Berpuasa, shalat Tarawih, menggelar peringatan turunnya AI-Qur’an, mencari malam Lailatul Qadar, memperbanyak membaca AI-Qur’an, dan kemudian mengakhirinya dengan membayar zakat fithrah dan merayakan hari kemenangan, `Idul Fithri.

Kewajiban berpuasa ini dijalankan kaum muslimin setiap hari dari adzan subuh hingga datangnya maghrib, sampai ‘Idul Fithri tiba.

Pada malam 1 Syawwal dikumandangkan takbir secara serentak, tanda kemenangan kaum muslimin melawan hawa nafsu selama satu bulan penuh. Lalu keesokan harinya, umat Islam melaksanakan shalat sunnah ‘Idul Fithri.

Keutamaan Tarawih

Shalat Tarawih adalah shalat yang dikerjakan di malam hari setelah shalat Isya di bulan Ramadhan yang dapat dikerjakan secara sendiri-sendiri ataupun berjama’ah. Waktu pelaksanaannya adalah setelah pelaksanaan shalat Isya sampai sebelum terbit fajar subuh.
Shalat Tarawih hukumnya sunnah muakkadah, sunnah yang diutamakan.

Tidak hanya melakukan shalat Tarawih, pada malam-malam selama bulan Ramadhan sangat dianjurkan untuk melakukan shalat-shalat sunnah lainnya, juga melakukan segala kebaikan. Walaupun di bulan-bulan lainnya juga kita dianjurkan melakukan amal shalih, berbeda dengan bulan Ramadhan, karena selama bulan Ramadhan ini segala pahala kebaikan dilipatgandakan.

Keistimewaan Lailatul Qadar

Lailatul Qadar adalah malam yang hanya ada di bulan Ramadhan. Malam itu, dikatakan dalam Al Quran pada surah Al-Qadr, lebih baik daripada seribu bulan.
Saat pasti kapan malam itu tidak diketahui, namun, menurut beberapa riwayat, malam itu jatuh pada 10 malam terakhir pada bulan Ramadhan, tepatnya pada salah satu malam ganjil, yakni malam ke21, 23, 25, 27, atau ke 29.

Sebagian muslim berusaha tidak melewatkan malam itu dengan menjaga diri tetap terjaga pada malammalam terakhir Ramadhan sembari beribadah sepanjang malam.
Gambaran tentang keistimewaan malam itu dapat dijumpai pada surah Al-Qadr, surah ke 97, dalam Al-Qur’an, yang antara lain menerangkan bahwa pada malam itu diturunkan AI-Qur’an dan para malaikat dan Jibril turun ke dunia untuk mengatur segala urusan.

Allah Ta’ala berfirman, “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasanpenjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. AI-Baqarah: 185).

Ibnu Katsir Rahimahullah tatkala menafsirkan ayat itu mengatakan, “(Dalam ayat ini) Allah Ta’ala memuji bulan puasa (yaitu bulan Ramadhan) dari bulan-bulan lainnya. Allah memuji demikian karena bulan ini telah Allah pilih sebagai bulan diturunkannya AI-Qur’an dari bulan-buIan lainnya. Sebagaimana pula pada buIan Ramadhan ini Allah telah menurunkan kitab Ilahiyah lainnya kepada para nabi ‘alaihimus salam.”

Lalu bagaimana kita menyikapi pencarian malam Lailatul Qadar tersebut? Apakah harus menyepi ke dalam gua, atau berkhalwat di puncak-puncak gunung?

Kita lihat bagaimana Rasulullah memberikan teladan ketika mengisi bulan suci Ramadhan, yang termaktub dalam hadist berikut, “Sesungguhnya Nabi Muhammad SAW tatkala masuk malam kesepuluh (dari bulan Ramadhan) beliau bangun di waktu malam dan membangunkan istri beliau serta mengencangkan kainnya.” (HR Al-Bukhari, Muslim). Maksud “mengencangkan kainnya” adalah memperbanyak ibadah.

Bangunlah di kala keheningan malam, bermunajat ke hadirat Ilahi seraya meratapi dosa-dosa yang telah lalu,sambil berdzikir, membaca Al-Qur’an, dan ber-i’tikaf di masjid. Insya Allah, dengan segala kerendahan hati kita meminta dan bermunajat kepada Allah, apa yang kita mohonkan dikabulkan.

Tetapi terkadang tidak sedikit di antara kita yang awam terlalu disibukkan dengan mencari-cari rahasia apa yang terkandung pada malam Lailatul Qadar, seperti sibuk mencari dan menyelicliki keberadaannya, sibuk mengamati tanda-tandanya, sehingga meninggalkan ibadah. Betapa banyak orang yang lupa membaca AI-Qur’an, dzikir, dan mencari ilmu, karena terlalu sibuk mengamati tanda-tanda Lailatul Oadar.

Menjelang matahari terbit, misalnya, terkadang kita dapati ada orang yang terlalu sibuk memperhatikan dan mengamati matahari, untuk mencari tahu apakah sinar matahari pagi itu terik ataukah tidak. Salah satu tanda Lailatul Qadar, sinar matahari tidak terik tapi tidak juga redup.

Mestinya mereka ini memperhatikan pesan Rasulullah SAW, “Semoga (dengan dirahasiakannya waktu Lailatul Qadar itu) menjadi lebih baik bagi kalian.” (HR Al-Bukhari).
Menurut para ulama, hikmah dirahasiakannya waktu Lailatul Qadar, agar manusia bersungguh-sungguh dan memperbanyak amal pada seluruh malam pada bulan Ramadhan, dengan harapan ada yang bertepatan dengan Lailatul Qadar.

Dengan tidak ditentukan kapan waktu dan tanggalnya, kita akan dituntut untuk selalu beribadah karena Allah, dan bukan hanya menjaganya di satu tanggal tertentu yang sudah kita tahu kapan malam Lailatul Qadar itu. Berbeda bila telah ditentukan kapan tanggal jatuhnya malam Lailatul Qadar, kesungguhan dalam beramal hanya akan ada pada satu malam itu. Akibatnya, kesempatan beribadah pada malam-malam lainnya akan dilewatkan begitu saja, atau setidaknya amal ibadahnya menurun.

Bahkan sebagian ulama mengambil satu faidah dari sabda Nabi SAW di atas, yaitu sebaiknya orang yang mengetahui Lailatul Qadar itu menyembunyikannya, karena Allah SWT telah menakdirkan pada nabi-Nya SAW untuk tidak memberitakannya. Dan semua kebaikan tentu ada pada sesuatu yang telah ditaqdirkan bagi Nabi SAW, sehingga kita disunnahkan untuk mengikutinya.
Dibukanya Pintu Surga
Rasulullah SAW bersabda, “Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan pun dibelenggu.”
Berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Di bulan Ramadhan, orang lebih sibuk melakukan kebaikan daripada melakukan maksiat. Inilah sebab mereka dapat memasuki surga. Sedangkan tertutupnya pintu neraka dan terbelenggunya setan, inilah yang mengakibatkan seseorang cenderung menjauhi maksiat ketika itu.

Walaupun banyak manusia yang melakukan maksiat dalam kesehariannya, terlihat perubahan dan perbedaan yang jelas bila di bulan Ramadhan. Mereka lebih banyak melakukan amal shalih, meninggalkan maksiat. Kita berdoa, semoga saudara-saudara kita akan terus melakukan ibadah dan perbuatan amal shalih, menjauhi larangan Allah, walau bukan di bulan Ramadhan. Insya Allah.

Dikabulkannya Doa

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadhan, dan setiap muslim apabila memanjatkan doa pasti dikabulkan.”

Nabi juga bersabda, “Tiga orang yang doanya tidak tertolak adalah orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan doa orang yang dizhalimi.”
An-Nawawi Rahimahullah menjelaskan, “Hadits ini menunjukkan bahwa disunnahkan bagi orang yang berpuasa untuk berdoa dari awal ia berpuasa hingga akhirnya.”

la juga mengatakan, “Disunnahkan bagi orang yang berpuasa untuk berdoa demi keperluan akhirat dan dunianya, juga pada perkara yang ia sukai, serta jangan lupa pula mendoakan kaum muslimin lainnya.”

Berniat Puasa di Malam Hari

Diwajibkan untuk umat Islam yang akan berpuasa wajib berniat akan menjalankan ibadah puasa pada malam sebelumnya, ketika ia akan berpuasa pada esok harinya. Nabi bersabda, “Barang siapa tidak berniat berpuasa pada malam harinya, tidak sah puasa yang ia lakukan di esok harinya.” (HR Al-Baihaqi dalam Sunannya).

Diriwayatkan pula oleh Imam Malik dalam AI-Muwaththa nya dengan sanad Nafi’ dari Abdullah bin Umar, `Tidak dianggap puasa kecuali yang berniat puasa sebelum terbitnya fajar.” Imam Malik meriwayatkan pula dari Ibnu Syihab Az-Zuhri dari Aisyah dan Hafshah, yang keduanya adalah istri Nabi, yang menegaskan sebagaimana yang dinyatakan oleh Ibnu Umar.

Maka bemiat puasa di bulan Ramadhan adalah wajib, dan niat itu haruslah dikuatkan di hati pada malam harinya sebelum terbit fajar. Sehingga tidak sah puasa orang yang belum sempat berniat di malam harinya.

Al-Imam An-Nawawi Rahimahullah menegaskan dalam AI-Majmu’ Syarh AlMuhadzdzab jilid 6 halaman 305, “Dan madzhab kami menyatakan bahwa tidak sah puasa kecuali dengan niat, baik puasa wajib Ramadhan maupun puasa wajib yang lainnya, maupun puasa sunnah. Dan telah berpendapat demikian segenap ulama kecuali Atha’ dan Mujahid dan Zufar.”

AI-Imam Al-Mawardi Rahimahullah dalam Al Hawi Al Kabir jilid 3 halaman 243 menegaskan, “Imam Syafi’i dan segenap ulama ahli fiqih telah berpendapat tentang wajibnya niat puasa Ramadhan.” Kemudian ia menambahkan, “Karena puasa itu adalah ibadah. Ada yang wajib dan ada yang sunnah. Maka semestinyalah niat itu sebagai syarat sahnya amalan tersebut sebagaimana shalat juga disyaratkan dengan niat untuknya.”

AI-Imam Abul Qasim Abdul Karim bin Muhammad bin Abdul Karim Ar-Rafi’i AlQazwaini Asy-Syafi’i dalam Asy-Syarhul Kabirjilid 3 halaman 183 menyebutkan, “Niat itu wajib dalam menjalankan puasa, dan tidak dianggap sah satu amalan kecuali dengan berniat. Dan tempatnya niat itu adalah hati, dan tidaklah disyaratkan dalam berniat itu dengan melafadzkannya untuk berpuasa, dan ini adalah pendapat yang tidak berselisih padanya para ulama.”

Sahur dan berbuka

Sahur adalah makan dan minum yang disunnahkan terhadap orang yang akan menunaikan puasa, dan lebih utama amalan sahur itu adalah diakhirkan sampai menjelang terbitnya fajar.

Batas waktu waktu sahur yaitu terbitnya fajar di ufuk timur dalam bentuk garis putih kemerah-merahan membentang secara horizontal dari utara ke selatan. Inilah yang dinamakan fajar shadiq. Adapun sejenak sebelum itu, ada pula sinar putih kemerah-merahan di ufuk timur, tetapi sinarnya dari bawah membentang secara vertikal ke atas, yang demikian ini dinamakan fajar kadzib, dan tidak dianggap sebagai batas waktu makan sahur, sehingga orang yang berpuasa tetap boleh makan sahur sampai terbitnya fajar shadiq.

Firman Allah, “Dan makanlah kalian dan minumlah hingga tampak bagi kalian benang putih dari benang hitam dari sinar fajar.” (QS AI-Baqarah: 187).

Dalam kaitannya dengan ayat ini, AlImam AI-Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya pada hadits ke-1 .916 sebuah pengalaman yang diceritakan oleh Adi bin Hatim RA sebagai berikut, “Ketika turun ayat yang mengatakan’Dan makanminumlah sehingga menjadi jelas bagi kalian benang berwarna dari benang berwarna hitam’, aku menyiapkan tali berwarna hitam dan tali berwarna putih dan aku letakkan keduanya di bawah bantalku. Dan setiap saat di kegelapan malam aku melihat kepada keduanya untuk melihat batas waktu sahur.

Sehingga, ketika di pagi hari aku bertemu Rasulullah SAW, aku ceritakan kepada beliau apa yang aku lakukan. Maka beliau pun bersabda, menjelaskan kepadaku, `Yang dimaksud di ayat itu sesungguhnya hanyalah hitamnya malam dan putihnya siang’.”

Demikianlah keterangan dari ayat AlQur’an yang dijelaskan oleh Nabi Muhammad SAW. Fajar itu mulai terbitnya di ufuk timur adalah dalam bentuk garis tipis seperti benang berwarna putih yang tampak jelas di tengah-tengah warna hitam kelamnya malam. Dan garis itu bertambah tebal terus-menerus. Kemudian Rasulullah SAW menjelaskan lebih lanjut, “Fajar itu ada dua macam, yaitu fajar jenis pertama bila terbit, maka tidak diharamkan padanya makan dan minum dan tidak dihalalkan shalat Subuh. Dan adapun fajar jenis kedua bila ia terbit, diharamkan makan dan minum dan dihalalkan shalat Subuh.” (HR Al-Baihaqi dalam As Sunanul Kubra jilid 4 halaman 216 dari Ibnu Abbas RA). Fajar jenis pertama dinamakan fajar kadzib dan fajar jenis kedua dinamakan fajar shadiq.

AI-Imam At-Tirmidzi telah meriwayatkan dalam Sunannya sebuah penjelasan dari Nabi Muhammad SAW tentang fajar kadzib dan fajar shadiq dalam kaitannya dengan bersahur. Dari Thalq bin Ali RA, ia meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Makan dan minumlah kalian (dalam sahur kalian). Dan janganlah menghalangi kalian untuk makan dan minum sahur dengan terbitnya sinar di ufuk timur yang membentang ke atas (yakni fajar kadzib), dan teruslah kalian makan dan minum sehingga terbit di hadapan kalian di ufuk timur sinar yang membentang horizontal berwarna merah (yakni fajar shadiq).”

Al-Imam At-Tirmidzi menyatakan, “Hadits ini juga diriwayatkan oleh Adi bin Hatim, Abu Dzar, dan Samurah bin Jundub.” Kemudian AI-Imam At-Tirmidzi menambahkan, “Hadits Thalq bin Ali adalah hadits yang hasan gharib dari sanad ini. Dan pengamalan hadits ini menurut para ulama adalah bahwa tidak haram bagi orang yang akan puasa untuk makan minum di waktu sahur sehingga terbitnya fajar yang berwarna merah membentang secara horizontal di ufuk timur.”

Adapun hikmah disunnahkannya sahur dan dianjurkannya adalah untuk menyelisihi Ahlul Kitab, yakni Yahudi dan Nashara, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim bin Hajjaj AI-Qusyairi An-Nisaburi dalam Shahihnya dari ‘Amr bin Al-‘Ash RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Perbedaan antara puasa kita dan puasa Ahlul Kitab adalah makan sahur.”
Hikmah makan sahur juga karena adanya barakah yang Allah berikan padanya. Sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Imam AI-Bukhari dalam Shahihnya dari Anas bin Malik RA bahwa Rasulullah bersabda, “Bersahurlah kalian, karena dalam sahur itu ada barakah.”

Sunnah Ramadhan

Puasa wajib bulan Ramadhan yang dijalani umat muslim di seluruh dunia itu bisa menjadi benteng pertahanan diri. Karena tujuan dari puasa itu tak lain adalah demi meningkatkan ketaqwaan dan keimanan. Di samping itu, di bulan Ramadhan Allah juga berjanji akan memberikan pahala yang besar kepada siapa saja yang berbuat kebajikan dan kebaikan.

Wajar jika Ramadhan adalah peluang emas bagi setiap muslim untuk menambah “tabungan” pahala di sisi Allah. Dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah dan Al-Baihaqi dijelaskan bahwa amalan-amalan sunnah pada bulan suci Ramadhan bernilai amalan wajib, sedang amalan wajib senilai 70 amalan wajib di luar bulan Ramadhan.

Maka, bulan Ramadhan adalah peluang terbaik untuk berbuat kebaikan. Sekecil apa pun kebaikan yang ditebarkan, itu bernilai ibadah.
Ada beberapa amalan yang disunnahkan pada bulan penuh maghfirah ini, selain amalan-amalan sunnah yang telah disebut di atas. Di antaranya:

1. Mengkhatamkan Al Quran. Dengan mengingat Ramadhan sebagai bulan Al-Qur’an, umat muslim disunnahkan
untuk mengkhatamkan AI-Qur’an. Dalam sebuah hadist diceritakan, Jibril mendatangi Rasulullah SAW pada tiap malam bulan Ramadhan dan mengajarkannya Al-Qur’an (HR Al-Bukhari dan Muslim).
2. Memberi makanan berbuka kepada mereka yang berpuasa. Sepanjang bulan Ramadhan, umat muslim dianjurkan untuk selalu memberikan ifthar (berbuka) bagi mereka yang berpuasa walaupun hanya seteguk air ataupun sebutir kurma.
3. Memperbanyak sedekah. Termasuk amalan sunnah yang dianjurkan sepanjang bulan Ramadhan adalah memperbanyak sedekah. Karena, “Sebaik-baik sedekah adalah sedekah pada bulan Ramadhan.” (HR AlTirmidzi).
4. I’tikaf. I’tikaf adalah berdiam diri di masjid untuk beribadah kepada Allah. I’tikaf disunnahkan bagi lakilaki dan perempuan. Rasulullah SAW selalu beri’tikaf terutama pada sepuluh malam terakhir. Aisyah RA berkata, “Bila telah memasuki sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan, Nabi menghidupkan malam, membangunkan keluarganya (istrinya), dan meninggalkan istrinya (tidak berhubungan suami-istri).” (HR Al-Bukhari dan Muslim).
5. Umrah. Ramadhan adalah waktu terbaik untuk melaksanakan ibadah umrah, lantaran umrah di bulan Ramadhan itu memiliki pahala seperti pahala haji, bahkan pahala haji bersama Rasulullah SAW.
6. Memperbanyak membaca doa. Doa seseorang ketika berbuka termasuk salah satu doa yang mustajab. Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Bagi orang yang berpuasa ketika sedang berbuka, ada doa yang tidak akan ditolak.” (HR Al-Tirmidzi).kom

Resensi Buku Pendidikan Kewarganegaraan

RESENSI BUKU Pendidikan Kewarganegaraan
Judul Buku : Pendidikan Kewarganegaraan
pengarang : Tim MKU LPIDB UMS
Penerbit : CV. Jasmine
Tahun Terbit : 2016
Tempat Terbit : UMS, Solo
Tebal Buku : 206 halaman

Buku pendidikan kewarganegaraan ini sangat penting dan diperuntukan bagi mahasiswa dan mahasiswi Universitas Muhammadiyah Surakarta, buku ini digunakan saat ada mata kuliah pendidikan kewarganegaraan yang wajib bagi setiap program studi di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Buku ini mengajarkan bagaimana cara agar menjadi warga negara yang baik, menjadi mahasiswa dan mahasiswi yaang berkarakter, serta dapat menjadi orang yang bermanfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Dalam mempelajari buku pendidikan kewarganegaraan yang akan didapat yaitu materi tentang pendidikan kewarganegaraan sebagai mata kuliah pengembangan kepribadian, identitas nasional, negara dan konstitusi, hubungan negara dan warga negara, demokrasi Indonesia, negara hukum dan hak asasi manusia, wawasan nusantara sebagai geopolitik Indonesia, ketahanan nasional Indonesia, dan integrasi nasional.

Dari semua materi tersebut mahasiswa dan mahasiswi harus bisa memahaminya karena materi tersebut merupakan materi ajar mata kuliah dan akan menentukan nilai dari mata kuliah pendidikan kewarganegaraan. Mahasiswa dan mahasiswi juga bisa mengamalkannya pada kehidupan sehari-hari karena materi tersebut juga berkaitan dengan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Adapun kelemahan dan kelebihan dari buku pendidikan kewarganegaraan adalah sebagai berikut, kelemahannya menurut saya selaku mahasiswi di Universitas Muhammadiyah Surakarta yaitu bukunya kurang menarik karena hanya berisi tulisan tanpa ada gambar yang bisa membuat jenuh dan bosan saat membacanya, sedangkan kelebihannya yaitu isinya lengkap dan sesuai dengan materi yang ada dikampus.dan bahasanya mudah dipahami mahasiswa dan mahasiswi.20_4

Kutipan Kata Mutiara Jiraya Sensei

Sumber: Kutipan Kata Mutiara Jiraya Sensei

Refleksi Surat R.A.Kartini “Habis Gelap Terbitlah Terang”

Raden Ajeng Kartini dilahirkan di Jepara pada tanggal 21 April 1879, jadi bertepatan 131 tahun lalu. Beliau adalah putri dari Bupati Jepara waktu itu bernama Raden Mas Adipati Sastrodiningrat dan cucu dari Bupati Demak, Tjondronegoro.

Saat Raden Ajeng Kartini menginjak dewasa, beliau menilai kaum wanita penuh dengan kehampaan, kegelapan, ketiadaan dalam perjuangan yang tidak lebih sebagai perabot kaum laki-laki yang bekerja secara alamiah hanya mengurus dan mengatur rumah-tangga saja.

RA Kartini tidak bisa menerima keadaan itu, walaupun dirinya berasal dari kaum bangsawan, namun tidak mau ada perbedaan tingkatan derajat, Kartini sering turun berbaur dengan masyarakat bawah yang bercita-cita merombak perbedaan status sosial pada waktu itu, dengan semboyan, “Kita Harus Membuat Sejarah, Kita Mesti Menentukan Masa Depan Kita yang Sesuai Keperluan Kita Sebagai Kaum Wanita dan Harus Mendapat Pendidikan Yang Cukup Seperti Halnya Kaum Laki-Laki.”

RA Kartini mengecap pendidikan tinggi setara dengan pemerintah kolonial Belanda dan terus memberi semangat kaum perempuan untuk tampil sama dengan kaum laki-laki. Pernikahan dengan Bupati Rembang, Raden Adipati Joyoningrat, lebih meningkatkan perjuangannya melalui sarana pendidikan dan lain-lain.

RA Kartini wafat pada usia 25 tahun, beliau pergi meninggalkan Bangsa Indonesia dalam usia sangat muda yang masih penuh cita-cita perjuangan dan daya kreasi yang melimpah.

Perjuangan RA Kartini berhasil menempatkan kaum wanita ditempat yang layak dan mengangkat derajat kaum wanita dari tempat gelap ke tempat terang benderang sesuai dengan karya tulis beliau yang terkenal berjudul, “Habis Gelap Terbitlah Terang.” kartini

Saat Raden Ajeng Kartini menginjak dewasa, beliau menilai kaum wanita penuh dengan kehampaan, kegelapan, ketiadaan dalam perjuangan yang tidak lebih sebagai perabot kaum laki-laki yang bekerja secara alamiah hanya mengurus dan mengatur rumah-tangga saja.

RA Kartini tidak bisa menerima keadaan itu, walaupun dirinya berasal dari kaum bangsawan, namun tidak mau ada perbedaan tingkatan derajat, Kartini sering turun berbaur dengan masyarakat bawah yang bercita-cita merombak perbedaan status sosial pada waktu itu, dengan semboyan, “Kita Harus Membuat Sejarah, Kita Mesti Menentukan Masa Depan Kita yang Sesuai Keperluan Kita Sebagai Kaum Wanita dan Harus Mendapat Pendidikan Yang Cukup Seperti Halnya Kaum Laki-Laki.”

RA Kartini mengecap pendidikan tinggi setara dengan pemerintah kolonial Belanda dan terus memberi semangat kaum perempuan untuk tampil sama dengan kaum laki-laki. Pernikahan dengan Bupati Rembang, Raden Adipati Joyoningrat, lebih meningkatkan perjuangannya melalui sarana pendidikan dan lain-lain.

 

First blog post

This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

Komentar Terakhir

Blogs I Follow

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 2 other followers

Pengunjung Saya

  • 14 hit

Community